PPI Tiongkok Logo

PPI TIONGKOK

HomeAboutEventsNewsGalleryJobsJoin UsMap

Home

About

Events

News

Gallery

Jobs

Join Us

Map

Back to News
Featured

Gelombang Baru Investasi Tiongkok di Indonesia: Peluang, Tantangan, dan Harapan bagi Mahasiswa Indonesia di Negeri Tirai Bambu

By Jonathan Edric Janssen

Saturday, July 18, 2026

Investasi Tiongkok ke Indonesia telah mencapai 35,3 miliar USD sejak 2020 hingga awal 2025, dengan fokus pada sektor bernilai tambah seperti hilirisasi logam, kendaraan listrik, dan energi terbarukan. Kajian ini menganalisis dampak investasi tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemandirian industri Indonesia menggunakan dua kerangka teori, yaitu FDI Spillover dan Teori Ketergantungan Ekonomi.

  1. Pembuka

Dalam era globalisasi manufaktur dan rantai pasokan (supply chain) yang semakin kompleks, kehadiran investor dari Tiongkok ke Indonesia naik ke level yang lebih tinggi. Volume investasi ini tidak hanya besar secara nominal, tetapi juga strategis pada sektor industri bernilai tambah seperti hilirisasi logam, kendaraan listrik (electric vehicles/EV), dan energi terbarukan. Sejak tahun 2020 hingga awal tahun 2025, realisasi investasi Tiongkok telah mencapai 35,3 miliar USD (Yudi, 2025). Di sisi lain, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, yang menjadi daya tarik utama bagi investasi asing. Penelitian oleh (Juwita et al., 2020)memperkuat hal ini dengan menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat keempat sebagai destinasi investasi paling menarik. Meskipun memberikan peluang besar bagi pertumbuhan industri dan peningkatan nilai tambah dalam negeri, investasi Tiongkok juga menghadirkan berbagai tantangan. Isu-isu seperti ketergantungan ekonomi, dampak lingkungan, dinamika tenaga kerja, serta keterbatasan transfer teknologi menjadi aspek yang sering diperdebatkan. Selain itu, beberapa proyek dikritik karena minimnya transparansi dan akuntabilitas pada tingkat lokal, yang berpotensi menciptakan risiko sosial dan tata kelola.

Dengan mempertimbangkan manfaat dan tantangan tersebut, kajian ini berupaya memahami bagaimana investasi Tiongkok mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan kemandirian industri di Indonesia. Fokus artikel ini adalah mengidentifikasi kelebihan, hambatan, serta peluang yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa Indonesia di Tiongkok, baik dalam bidang karir, inovasi, maupun pengembangan keterampilan. Kajian dilakukan melalui pendekatan berbasis data dan studi kasus untuk menghasilkan analisis yang komprehensif dan faktual. 


  1. Landasan Teoritis & Konseptual

Konsep utama dalam kajian ini meliputi efek limpahan investasi asing langsung (foreign direct investment spillover atau FDI spillover) dan Teori Ketergantungan Ekonomi. Menurut (Purwono et al., 2024), FDI spillover adalah efek tidak langsung dari investasi asing yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan domestik melalui mekanisme seperti transfer teknologi, peningkatan efisiensi, dan penyebaran praktik manajerial modern. Sementara itu, Teori Ketergantungan Ekonomi menjelaskan bahwa pembangunan ekonomi negara berkembang sering terhambat oleh ketergantungan struktural terhadap negara maju, dimana aliran modal, teknologi, dan hasil produksi lebih menguntungkan negara pusat (core), sedangkan negara berkembang tetap berada dalam posisi pinggiran (periphery) tetap berada dalam posisi ketergantungan (Britannica Money, 2025). Kedua konsep ini relevan untuk menilai pengaruh investasi Tiongkok terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemandirian industri di Indonesia.

Penelitian terdahulu (Juwita et al., 2020) membahas tentang potensi dan tantangan FDI Tiongkok di Indonesia. Dari sisi potensi, investasi tersebut dapat mendorong transfer teknologi, peningkatan kapasitas industri, serta penyerapan tenaga kerja. Namun, pesatnya ekspansi perusahaan manufaktur Tiongkok di Indonesia juga berpotensi menekan daya saing perusahaan lokal yang masih tertinggal dari segi teknologi dan efisiensi produksi. Dalam konteks ini, mahasiswa Indonesia di Tiongkok. Selain itu, literatur mengenai diaspora Indonesia menunjukkan bahwa individu dengan pengalaman internasional dapat berperan dalam transfer pengetahuan dan jaringan profesional yang mendukung penguatan kapasitas industri (Syafitri et al., 2020). Dari temuan ini, dapat diimplikasikan bahwa mahasiswa Indonesia di Tiongkok memiliki potensi untuk mengembangkan karier, kemampuan inovasi, dan keterampilan, serta berkontribusi secara tidak langsung pada kapasitas sumber daya manusia dan kemandirian industri di Indonesia. Kajian ini penting karena memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dampak investasi Tiongkok terhadap industri dan ekonomi Indonesia, serta menyoroti peluang strategis yang dapat dimanfaatkan mahasiswa. 


  1. Gambaran Kondisi Aktual

Permasalahan utama dalam kajian ini adalah bagaimana pengaruh investasi Tiongkok mempunyai nilai yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia.  Investasi dari Tiongkok mungkin memberikan banyak kelebihan untuk negeri kita. Namun juga memberikan tantangan / risiko di masa depan. Bagaimana mahasiswa Indonesia di Tiongkok mampu berkontribusi dalam permasalahan ini. Investasi Tiongkok kepada Indonesia memberikan dampak positif seperti membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan diversifikasi industri. Penciptaan lapangan pekerjaan dan penguatan kemampuan lokal. Serta transfer teknologi dan kapasitas Manpower. Namun terdapat potensi tantangan dan juga resiko seperti ketergantungan, posisi tawar rendah, hambatan regulasi, siklus investasi yang panjang, isu lingkungan, tenaga kerja, dan kesejahteraan masyarakat lokal, dan sebagainya.  

Pembiayaan dari Tiongkok menawarkan Indonesia janji pertumbuhan ekonomi, hal ini menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan perlindungan lingkungan. Salah satu contoh situasi ini, dalam laporan AidData Belt and Road Reboot: Beijing’s Bid to De‑Risk Its Global Infrastructure Initiative (Custer et al., 2025), ditemukan bahwa sekitar 26% proyek investasi Tiongkok di Indonesia memiliki risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Laporan aktual tersebut menunjukkan bahwa pembangunan yang didorong oleh investasi luar negeri perlu mempertimbangkan dampak keberlanjutan baik secara ekonomi atau sosial terhadap warga lokal. 

 

Tiongkok ikut andil dalam pembangunan infrastruktur di Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dijanjikan akan menggantikan Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia di masa depan. Dilansir dari (Dwibaskoro, 2025),mayoritas investasi sekitar 68,4 triliun datang melalui kemitraan publik swasta (KPS). Pembangunan tersebut termasuk sistem transportasi terintegrasi dan infrastruktur jalan. 

Janji pertumbuhan ekonomi dari Tiongkok ke Indonesia dibuktikan dengan kondisi kerjasama Indonesia-Tiongkok dalam Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Jakarta‑Bandung High Speed Rail). Pembangunan secara resmi ditandai oleh pembentukan konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) pada Oktober 2015. Proyek ini kemudian mulai beroperasi secara komersial pada 17 Oktober 2023.


Grafik diatas menjelaskan investasi yang masuk ke Indonesia oleh investor asing dari Tiongkok dan pemasukan secara keseluruhan. Garis berwarna merah menandakan pemasukan dari Tiongkok, sedangkan garis berwarna hijau tua menandakan pemasukan secara keseluruhan termasuk Tiongkok. Dapat terlihat tren keduanya hampir sama selama 14 tahun terakhir. Dapat terlihat tahun 2023 merupakan puncak investasi Tiongkok di Indonesia yaitu sekitar $20 Miliar USD. 


Tabel ini membahas tentang sektor-sektor investasi oleh Tiongkok dan secara keseluruhan di Indonesia. Dapat dilihat bahwa besi ($83.47M USD) merupakan sektor investasi yang paling diminati secara keseluruhan diikuti oleh migas dan batu bara ($67.72M USD), tanah ($34.65M USD), dan komponen elektronik ($31.07M USD). Selain itu, Tiongkok sendiri menduduki 98 persen investasi mineral dari keseluruhan, 95 persen investasi kayu dari keseluruhan, 62 persen investasi keramik dan kaca dari keseluruhan, dan 50 persen investasi besi dari keseluruhan. 

Proyek monumental untuk membangun kereta api berkecepatan tinggi pertama di Indonesia, Jakarta–Bandung HSR, diajukan oleh Japan International Cooperation Agency pada tahun 2014. Rencana Jepang tersebut mencakup suku bunga rendah (0,1 persen) namun akan mengharuskan pemerintah Indonesia memberikan jaminan pembayaran pinjaman dan menanggung 25% dari total biaya proyek. Beijing mengajukan tawaran kompetitif: pembiayaan penuh melalui pinjaman Bank Pembangunan China dengan suku bunga 2 persen untuk proyek yang akan diselesaikan dalam tiga tahun, bukan lima tahun (Custer dkk., 2023; Dreher dkk., 2022).

Dalam studi global oleh AidData Belt and Road Reboot: Beijing’s Bid to De‑Risk Its Global Infrastructure Initiative (Custer et al., 2025), ditemukan bahwa proyek infrastruktur yang merupakan bentuk investasi Tiongkok terhadap Indonesia memiliki distribusi ESG yang tidak merata. Sehingga proyek ini mendapat kritik terkait penilaian lingkungan yang cacat, kematian pekerja, dan gangguan terhadap komunitas. Selain itu, proyek ini juga dikaitkan dengan banjir parah, sistem drainase yang rusak, dan kerusakan sampingan pada rumah-rumah di sekitarnya.


Custer, S., Burgess, B., Kim, H.K., Krisnadi, M.F., Marshall, K., Mathew, D., Patrick, F., Saputra, A.D., Solis, J.A., and N. Sritharan. (2025). Balancing Risk and Reward: Who benefits from China’s investments in Indonesia?. Williamsburg, VA: AidData at William & Mary.


  1. Analisis dan Pembahasan 

Dari pembahasan sebelumnya, dapat dilihat bahwa datangnya investasi China ke Indonesia merupakan kunci yang meliputi dua teori: Teori FDI dan Teori Ketergantungan Ekonomi. Saat ini Indonesia sedang mengalami yang disebut paralelisme, yakni Kedua Teori beroperasi Secara Bersamaan. Indonesia saat ini tidak terlepas dari kedua teori tersebut, karena keduanya membawa dampak secara bersamaan baik manfaat demi meningkatkan ekonomi negara maupun risiko ketergantungan ekonomi.

Dalam bentuk FDI, saat ini mulai menunjukkan dominasi di sektor-sektor yang lebih sederhana dan dekat dengan masyarakat lokal, seperti sektor agribisnis dan manufaktur ringan. Misalnya, investasi Tiongkok di pabrik pengolahan kelapa sawit di Sumatera tidak hanya memberikan modal, tetapi juga melatih petani lokal dalam metode budidaya modern. Hal ini memberikan benefit secara luas sehingga petani mampu meningkatkan hasil panen tanpa bergantung pada investor. Selain itu, investasi Tiongkok di Indonesia juga membawa dampak baik dalam hal infrastruktur dan teknologi di Indonesia. Contohnya seperti bantuan infrastruktur IKN oleh China, maupun pembangunan transportasi kereta cepat Jakarta-Bandung. 

Investasi ini membantu Indonesia untuk tidak sekedar menjadi penghasil bahan mentah, tetapi juga sebagai industri nilai tambah. Dengan begitu, Indonesia mendapatkan ruang untuk mengekspor dan memproduksi barang jadi yang dapat meningkatkan nilai ekspor Indonesia. 

Selain itu, bersamaan dengan naiknya potensi perdagangan Internasional negara, Investasi dari China juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan peningkatan kemampuan tenaga kerja lokal. Bagi mahasiswa Indonesia yang sedang studi Tiongkok, hal ini bisa menjadi jembatan karier bagi mereka. Kemampuan bahasa Mandarin, pengalaman tinggal di Tiongkok, serta pemahaman budaya kerja Tiongkok menjadi keunggulan kompetitif bagi Indonesia. 

Investor Tiongkok biasanya membawa teknologi dan skema produksi yang lebih maju, yang jika dikombinasikan dengan SDM Indonesia dapat menghasilkan kolaborasi yang saling menguntungkan. 

Namun dalam bentuk ketergantungan ekonomi, saat ini situasi Indonesia saat ini masih menunjukkan kecenderungan sedikit lebih kuat ke arah Teori Ketergantungan Ekonomi, khususnya di sektor-sektor yang membutuhkan investasi skala besar dan teknologi tinggi. Alasanya adalah karena saat ini Indonesia masih belum memiliki skill teknologi yang dimiliki negara maju lainnya, terutama sektor sektor seperti: kereta cepat, baterai EV, atau sistem manajemen infrastruktur yang canggih. Semua proyek skala besar ini masih bergantung pada Tiongkok, sehingga peningkatan teknologi dalam negeri masih kurang dan perlu dikembangkan lebih lanjut.

Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya untuk mengurangi ketergantungan (seperti program "Kemandirian Teknologi Nasional" dan regulasi Persyaratan Lokal Content/PLC), namun implementasinya masih lambat. Saat ini, PLC untuk sektor EV hanya mencapai 40% (target pemerintah adalah 60% pada 2025), dan banyak perusahaan lokal masih kesulitan memenuhi standar teknis untuk berkolaborasi dengan investor Tiongkok. Hal ini membuat Indonesia tetap berada dalam posisi lemah dalam negosiasi, sehingga risiko ketergantungan tetap dominan.

Situasi Indonesia saat ini tidak mengarah ke satu teori saja, melainkan Paralelisme antara FDI Spillover dan Teori Ketergantungan Ekonomi (Rauf, 2024), dengan kecenderungan merujuk lebih kuat ke arah risiko ketergantungan ekonomi di sektor teknologi dan infrastruktur dalam skala besar. Namun, ini bukanlah kondisi permanen di Indonesia. Apabila Pemerintah berhasil mempercepat kinerja kerja, implementasi program kemandirian teknologi, dan menegosiasi syarat FDI yang lebih adil, Indonesia memiliki kemungkinan beralih kecenderungan ke arah FDI Spillover, tanpa perlunya terlalu bergantung pada satu ahli. Alhasil Indonesia menjadi negara merujuk FDI Spillover, dimana manfaat ekonomi dan kapasitas domestik menjadi lebih dominan daripada risiko ketergantungan. Maka negara Indonesia dapat terus berkembang demi meningkatkan skill sendiri dan membangun proyek besar baik dalam bidang ekonomi, sosial, dan teknologi secara skala besar.

 Rauf, D. I. (2024). Dampak Investasi Asing Langsung Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Jurnal Ilmu Manajemen, Bisnis Dan Ekonomi (JIMBE), 2(1), 107-116.


  1. Solusi dan Rekomendasi

Pemerintah Indonesia perlu menyusun kebijakan strategis yang mendorong investasi Tiongkok selaras dengan penguatan kemandirian industri nasional. Misalnya, memberikan insentif bagi perusahaan asing yang melakukan penelitian dan pengembangan (R&D) di dalam negeri, agar transfer teknologi dapat lebih optimal. Hal ini sejalan dengan temuan OECD yang menyebutkan bahwa FDI di Indonesia memiliki potensi limpahan produktivitas, tetapi. kapasitas domestik untuk menyerap teknologi masih terbatas sehingga dukungan kebijakan dan kelembagaan diperlukan untuk memperkuat absorptive capacity (OECD, 2020). Selain itu, pemerintah dapat meningkatkan regulasi terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), yaitu persentase penggunaan bahan, komponen, tenaga kerja, dan jasa lokal dalam suatu. produk atau proyek yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian industri domestik. Persyaratan transfer teknologi. bagi perusahaan asing juga perlu diterapkan, sehingga kombinasi kebijakan ini dapat memperkuat nilai tambah lokal sekaligus mengurangi risiko ketergantungan ekonomi (Kemenperin, diwartakan Kontan, 2025).

Di tingkat operasional, pemerintah dan sektor swasta dapat menyelenggarakan program pelatihan, magang industri, dan kemitraan riset yang melibatkan mahasiswa Indonesia, termasuk mereka yang belajar di Tiongkok, untuk memfasilitasi transfer. pengetahuan dan praktik kerja industri. Dukungan insentif pajak bagi belanja penelitian dan pengembangan perusahaan juga dapat memperkuat inovasi domestik sekaligus mempercepat adopsi teknologi baru (Kemenkeu, 2024). Dengan strategi dan program ini, kapasitas sumber daya manusia dan daya saing industri nasional dapat meningkat, sehingga manfaat investasi Tiongkok bagi pertumbuhan ekonomi dan kemandirian industri Indonesia dapat dimaksimalkan.

Mahasiswa Indonesia yang berada di Tiongkok dapat berpotensi mengatasi masalah ketimpangan tenaga kerja yang memungkinkan terjadi di Indonesia. Harapan dan juga peluang bagi mereka yang telah tinggal di Tiongkok, dapat berbahasa Mandarin, dan paham akan budaya Tiongkok untuk menjadi jembatan yang memperkuat hubungan antara Indonesia dan Tiongkok. 


  1. Kesimpulan

Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Banyak investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia termasuk Tiongkok. Hal ini memberikan banyak dampak baik kepada hubungan antar negara dan yang paling penting adalah peningkatan ekonomi negara. Akan tetapi, perlu diingat juga bahwa hal ini juga mempunyai potensi tantangan yang harus diperhatikan. Indonesia harus berhati-hati dalam mengambil langkah besar ini agar tidak terjadi hal-hal yang justru akan memberikan dampak buruk pada negara kita. Selain itu, hal ini juga memberikan peluang besar kepada mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Tiongkok. Mereka akan menjadi jembatan yang  memperkuat hubungan antara kedua negara tersebut. 


  1. Bibliografi

Britannica Money. (n.d.). Dependency and world systems theories. Britannica Money. Retrieved November 6, 2025, from https://www.britannica.com/money/economics

Custer, S., Burgess, B., Kim, H., Krisnadi, M., Marshall, K., Matthew, D., Patrick, F., Saputra, A., Solis, J., & Sritharan, N. (2025, June). Balancing Risk and Reward: Who benefits from China’s investments in Indonesia? AIDDATA. https://docs.aiddata.org/reports/balancing-risk-and-reward/full-report.html

Dwibaskoro, A. (2025, May 30). China Investment in IKN Reaches Nearly IDR 70 Trillion. Invest Indonesia. China Investment in IKN Reaches Nearly IDR 70 Trillion

Juwita, M. R., Wang, T., Sukma, Y. G., Iskandar, M., & Supriyadi, A. (2020). Potentials and Challenges of Chinese Foreign Direct Investment in Indonesia. NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial Dan Keagamaan Islam, 17(2), 195–217. https://doi.org/10.19105/nuansa.v17i2.3523

Purwono, R., Nur Hamzah, I., & Yasin, M. Z. (2024). TECHNOLOGICAL GAP AND FOREIGN DIRECT INVESTMENT SPILLOVERS IN INDONESIA. Jurnal REP (Riset Ekonomi Pembangunan), 9(1), 24–37. https://doi.org/10.31002/rep.v9i1.1274

Rauf, D. (2024). Dampak Investasi Asing Langsung Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Jurnal Ilmu Manajemen Bisnis Dan Ekonomi, 2.

Yudi, A. (2025, August 28). China’s investment in Indonesia hits US$35.3 billion Source Tempo. Asia Pacific Solidarity Network (ASPN).

 


PPI Tiongkok Logo

PPI Tiongkok

  • Home
  • |
  • About
  • |
  • Events
  • |
  • Gallery
  • |
  • Map

Terms|Privacy

© 2025 Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok