
Kendaraan Listrik Mengubah Wajah Kota-Kota di Tiongkok
By Jonathan Edric Janssen
Tuesday, July 28, 2026
Perkembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Tiongkok merupakan salah satu transformasi terbesar dalam sektor transportasi dunia dan telah mengubah wajah kota-kota besar seperti Shenzhen, Shanghai, dan Beijing. Didorong oleh kebijakan pemerintah yang agresif berupa subsidi, insentif industri, dan investasi infrastruktur, jumlah kendaraan listrik di Tiongkok mencapai sekitar 36,89 juta u
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan kendaraan listrik, electric vehicle (EV), di Tiongkok telah menjadi salah satu transformasi terbesar dalam sektor transportasi dunia. Tiongkok saat ini menjadi pasar kendaraan listrik yang besar secara global dengan pertumbuhan produksi, penjualan, dan penggunaan kendaraan listrik yang tinggi (Li, 2025). Perkembangan tersebut tidak hanya mengubah industri otomotif, tetapi juga mulai mengubah wajah kota-kota di Tiongkok melalui perubahan pola mobilitas, pembangunan infrastruktur baru, hingga transformasi gaya hidup masyarakat urban. Berbagai kota besar seperti Shenzhen, Shanghai, dan Beijing kini semakin identik dengan dominasi kendaraan listrik di jalan raya serta berkembangnya ekosistem transportasi rendah emisi. Pertumbuhan kendaraan listrik di Tiongkok didukung oleh kebijakan pemerintah yang agresif dalam mendorong transisi menuju energi bersih. Pemerintah Tiongkok secara konsisten memberikan subsidi kendaraan listrik, insentif industri, serta investasi besar pada infrastruktur pengisian daya. Akibatnya, jumlah kendaraan listrik di Tiongkok meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada pertengahan tahun 2025, jumlah kendaraan listrik di Tiongkok telah mencapai sekitar 36,89 juta unit atau lebih dari 10% total kendaraan nasional, dengan lebih dari 5,6 juta kendaraan energi baru terdaftar hanya dalam enam bulan pertama tahun tersebut (Deng et al., 2026). Perubahan paling terlihat terjadi pada sistem transportasi perkotaan. Banyak kota di Tiongkok kini mulai mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan berbahan bakar fosil dan beralih ke kendaraan listrik, baik untuk transportasi pribadi maupun transportasi umum. Kota Shenzhen, misalnya, dikenal sebagai salah satu kota pertama di dunia yang mengoperasikan armada bus listrik secara menyeluruh. Transformasi tersebut membantu mengurangi polusi udara dan kebisingan di wilayah perkotaan. Selain itu, penggunaan kendaraan listrik juga membuat kualitas udara di beberapa kota besar mengalami perbaikan dibandingkan satu dekade sebelumnya ketika polusi udara menjadi salah satu masalah utama urbanisasi Tiongkok. Perkembangan kendaraan listrik juga mendorong pembangunan infrastruktur pengisian daya dalam skala besar. Saat ini, stasiun pengisian daya kendaraan listrik telah menjadi bagian umum dari lanskap perkotaan di Tiongkok. Area parkir pusat perbelanjaan, apartemen, kampus, hingga rest area jalan tol kini banyak dilengkapi fasilitas charging station. Laporan mengenai pembangunan infrastruktur kendaraan energi baru menunjukkan bahwa jumlah fasilitas pengisian daya di Tiongkok telah melampaui 20 juta unit pada akhir tahun 2025 dengan pertumbuhan hampir 50% dalam satu tahun (Li, 2025). Hal tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dilakukan secara masif untuk mendukung percepatan penggunaan kendaraan listrik di berbagai kota. Selain jumlahnya yang meningkat, teknologi pengisian daya kendaraan listrik di Tiongkok juga berkembang sangat cepat. Salah satu perusahaan yang menjadi sorotan global adalah BYD yang mengembangkan teknologi super-fast charging. Pada tahun 2025, BYD memperkenalkan platform pengisian daya yang diklaim mampu memberikan jarak tempuh sekitar 400 kilometer hanya dalam waktu lima menit pengisian (CNBC, 2025). Teknologi tersebut dianggap sebagai langkah penting untuk mengurangi kekhawatiran masyarakat terhadap durasi pengisian daya kendaraan listrik yang selama ini menjadi salah satu hambatan utama adopsi EV. Perkembangan teknologi ini secara tidak langsung mengubah desain dan fungsi ruang kota. Jika sebelumnya stasiun pengisian bahan bakar minyak menjadi infrastruktur utama transportasi, kini kota-kota di Tiongkok mulai dipenuhi ultra-fast charging station yang bentuknya menyerupai stasiun pengisian modern berbasis digital. Banyak charging station baru terintegrasi dengan pusat komersial, area rekreasi, dan layanan digital berbasis aplikasi. Bahkan beberapa perusahaan mulai mengembangkan konsep charging ecosystem yang terhubung dengan smart city dan manajemen energi perkotaan. Transformasi kendaraan listrik juga berdampak pada pola hidup masyarakat urban di Tiongkok. Masyarakat kini semakin terbiasa menggunakan aplikasi digital untuk memantau daya baterai, mencari charging station terdekat, hingga melakukan pembayaran secara otomatis. Kendaraan listrik juga dianggap lebih praktis dan ekonomis untuk penggunaan harian di kota besar. Bagi generasi muda, kendaraan listrik tidak hanya dipandang sebagai alat transportasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup modern yang identik dengan teknologi, efisiensi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini menyebabkan kendaraan listrik semakin populer terutama di kalangan masyarakat perkotaan dan kelas menengah muda. Di sisi lain, perkembangan kendaraan listrik yang sangat cepat juga memunculkan berbagai tantangan baru bagi kota-kota di Tiongkok. Salah satu tantangan utama adalah pemerataan akses infrastruktur pendukung. Infrastruktur charging station di Tiongkok masih cenderung terkonsentrasi di wilayah urban maju dan kawasan ekonomi kuat (Li, 2025). Akibatnya, terdapat kesenjangan akses antara pusat kota dan wilayah pinggiran. Selain itu, penggunaan ultra-fast charging dalam jumlah besar juga mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas jaringan listrik perkotaan karena meningkatnya kebutuhan energi dalam waktu singkat (Yu et al., 2025). Meskipun demikian, perkembangan kendaraan listrik tetap memberikan dampak positif yang signifikan terhadap upaya pembangunan kota berkelanjutan. Kendaraan listrik membantu mengurangi emisi karbon sektor transportasi dan mendukung target transisi energi rendah karbon yang sedang dicanangkan pemerintah Tiongkok. Penelitian mengenai emisi kendaraan listrik di berbagai kota Tiongkok menunjukkan bahwa kendaraan listrik secara umum lebih efisien dibanding kendaraan berbahan bakar minyak dalam penggunaan energi dan berpotensi membantu proses dekarbonisasi transportasi perkotaan pada masa depan. Pada akhirnya, perkembangan kendaraan listrik di Tiongkok menunjukkan bahwa transformasi transportasi tidak hanya berkaitan dengan perubahan teknologi kendaraan, tetapi juga perubahan wajah kota secara keseluruhan. Infrastruktur baru, pola mobilitas digital, kualitas udara yang lebih baik, hingga perubahan gaya hidup masyarakat menjadi bagian dari dampak besar revolusi kendaraan listrik di Tiongkok. Dengan dukungan teknologi dan kebijakan yang terus berkembang, kota-kota di Tiongkok kemungkinan akan menjadi salah satu contoh utama transformasi urban berbasis kendaraan listrik di masa depan.