
Mengapa Tiongkok Semakin Menjadi Pilihan Utama Mahasiswa Indonesia?
By Jonathan Edric Janssen
Tuesday, July 28, 2026
Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok muncul sebagai destinasi studi yang semakin diminati oleh mahasiswa Indonesia, menggeser dominasi negara tujuan tradisional seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Jepang. Tulisan ini mengidentifikasi berbagai faktor pendorong tren tersebut, mulai dari biaya hidup dan pendidikan yang relatif terjangkau, ketersediaan beasiswa seperti Chinese Governme
Selama beberapa dekade, negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Jepang sering menjadi tujuan utama mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok mulai muncul sebagai salah satu destinasi studi yang semakin diminati (Puspitaningnala, 2026). Fenomena ini tidak hanya terlihat dari meningkatnya jumlah mahasiswa internasional yang belajar di Tiongkok, tetapi juga dari semakin banyaknya mahasiswa Indonesia yang memilih universitas-universitas Tiongkok untuk jenjang sarjana, magister, maupun doktoral. Perkembangan tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam peta pendidikan tinggi global yang patut dicermati. Selain kualitas akademik, faktor biaya juga menjadi pertimbangan penting. Dibandingkan banyak negara tujuan studi lainnya, biaya hidup dan biaya pendidikan di berbagai kota di Tiongkok relatif lebih terjangkau. Di sisi lain, pemerintah Tiongkok dan berbagai universitas menyediakan beragam skema beasiswa bagi mahasiswa internasional, termasuk mahasiswa dari negara-negara Asia Tenggara. Program seperti Chinese Government Scholarship (CGS) dan berbagai beasiswa Belt and Road Initiative telah membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi mahasiswa internasional yang memiliki prestasi akademik baik. Hubungan ekonomi yang semakin erat antara Indonesia dan Tiongkok juga turut mempengaruhi pilihan studi mahasiswa Indonesia. Saat ini, Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia dan berperan penting dalam berbagai proyek investasi, infrastruktur, manufaktur, hingga teknologi. Akibatnya, kemampuan berbahasa Mandarin serta pemahaman terhadap lingkungan bisnis dan budaya Tiongkok semakin bernilai di dunia kerja. Banyak mahasiswa Indonesia melihat studi di Tiongkok bukan hanya sebagai kesempatan memperoleh gelar akademik, tetapi juga sebagai investasi untuk meningkatkan daya saing karier di masa depan. Perkembangan teknologi dan inovasi di Tiongkok juga menjadi daya tarik tersendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan teknologi dunia, terutama pada bidang kecerdasan buatan, kendaraan listrik, teknologi finansial, telekomunikasi, dan manufaktur canggih. Lingkungan yang dinamis tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa internasional untuk belajar secara langsung dari ekosistem inovasi yang berkembang pesat. Bagi mahasiswa Indonesia yang tertarik pada bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), Tiongkok menawarkan pengalaman akademik yang sangat relevan dengan kebutuhan industri masa depan. Meningkatnya jumlah mahasiswa internasional juga menunjukkan bahwa daya tarik Tiongkok tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa Indonesia. Terdapat sekitar 380.000 mahasiswa internasional dari 191 negara yang sedang menempuh pendidikan di Tiongkok pada tahun akademik 2024–2025 (Zou Shuo, 2026). Dari jumlah tersebut, lebih dari 205.000 merupakan mahasiswa program gelar dengan bidang teknik menjadi program studi yang paling diminati. Angka tersebut menunjukkan bahwa Tiongkok telah berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan internasional terbesar di dunia. Bagi mahasiswa Indonesia, keberadaan komunitas pelajar Indonesia yang semakin besar di berbagai kota di Tiongkok juga memberikan rasa aman dalam proses adaptasi. Berbagai organisasi mahasiswa Indonesia di Tiongkok secara aktif membantu mahasiswa baru dalam mengenal lingkungan kampus, budaya lokal, serta kehidupan sehari-hari. Kehadiran komunitas ini membuat proses transisi menjadi lebih mudah dibandingkan beberapa negara tujuan studi lainnya yang memiliki jumlah mahasiswa Indonesia relatif lebih sedikit. Fenomena tersebut turut berkontribusi terhadap meningkatnya minat generasi muda Indonesia untuk melanjutkan studi ke Tiongkok. Selain itu, semakin banyak program studi yang ditawarkan dalam bahasa Inggris juga menjadi faktor pendorong. Jika pada masa lalu mahasiswa internasional umumnya datang ke Tiongkok untuk belajar bahasa Mandarin, saat ini banyak universitas telah menyediakan program sarjana dan pascasarjana berbahasa Inggris, terutama pada bidang teknik, bisnis, kedokteran, dan sains. Perubahan ini memperluas akses bagi mahasiswa internasional yang belum memiliki kemampuan bahasa Mandarin yang memadai saat memulai studi. Menariknya, tren mahasiswa internasional di Tiongkok juga menunjukkan pergeseran dari program jangka pendek menuju program gelar penuh. Mayoritas mahasiswa internasional kini merupakan mahasiswa degree-seeking yang menempuh pendidikan sarjana, magister, atau doktoral (Zou Shuo, 2026). Hal ini menandakan bahwa Tiongkok tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat belajar bahasa atau pertukaran pelajar, melainkan sebagai tujuan pendidikan tinggi yang memiliki reputasi akademik semakin kuat di tingkat global. Pada akhirnya, meningkatnya minat mahasiswa Indonesia untuk belajar di Tiongkok merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari peningkatan kualitas universitas, ketersediaan beasiswa, biaya yang relatif terjangkau, hubungan ekonomi Indonesia–Tiongkok yang semakin erat, hingga berkembangnya reputasi Tiongkok sebagai pusat inovasi global. Dengan tren tersebut, Tiongkok berpotensi menjadi salah satu destinasi pendidikan luar negeri yang semakin penting bagi generasi muda Indonesia pada masa mendatang. Bagi mahasiswa yang ingin memperoleh pengalaman akademik internasional sekaligus memahami salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia, Tiongkok menawarkan peluang yang semakin sulit untuk diabaikan.