
Perkembangan Artificial Intelligence di Tiongkok dan Dampaknya bagi Mahasiswa Internasional
By Jonathan Edric Janssen
Tuesday, July 28, 2026
Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) di Tiongkok telah membawa perubahan signifikan pada sektor pendidikan tinggi, didorong oleh investasi besar pemerintah pada riset dan integrasi AI dalam sistem pendidikan nasional, termasuk target pembangunan "strong education nation" pada 2035. Tulisan ini membahas bagaimana universitas-universitas di Tiongkok mengintegrasikan AI ke dalam
Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar pada berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan tinggi. Tiongkok menjadi salah satu negara yang menunjukkan perkembangan AI paling pesat di dunia melalui investasi besar pada riset, pengembangan industri teknologi, serta integrasi AI dalam sistem pendidikan nasional (Reuters, 2025b). Pemerintah Tiongkok bahkan menargetkan pembangunan “strong education nation” pada tahun 2035 dengan menjadikan AI sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran di seluruh jenjang pendidikan (Reuters, 2025b). Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak lagi dipandang sekadar teknologi tambahan, melainkan telah menjadi bagian strategis dalam pembangunan sumber daya manusia di Tiongkok. Perkembangan AI di Tiongkok juga didorong oleh kemajuan perusahaan teknologi domestik dan universitas-universitas ternama yang aktif mengembangkan sistem berbasis large language model. Pada tahun 2025, berbagai universitas besar di Tiongkok mulai memperluas penerimaan mahasiswa pada bidang AI dan teknologi strategis lainnya sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan tenaga ahli di sektor digital (Reuters, 2025a). Fenomena ini memperlihatkan bahwa AI telah menjadi prioritas nasional yang tidak hanya berdampak pada sektor industri, tetapi juga memengaruhi arah pendidikan tinggi di negara tersebut. Dalam lingkungan kampus, penggunaan AI semakin terasa dalam aktivitas akademik sehari-hari. Beberapa universitas di Tiongkok telah menyediakan platform AI internal untuk mendukung mahasiswa dan dosen dalam proses pembelajaran. Salah satu contohnya adalah XIPU AI yang dikembangkan oleh Xi’an Jiaotong-Liverpool University. Platform tersebut mengintegrasikan berbagai model AI untuk membantu personalisasi pembelajaran, pencarian referensi akademik, peringkasan materi, hingga pengembangan asisten pembelajaran berbasis AI (XJTLU, 2025). Kehadiran platform seperti ini menunjukkan bagaimana AI mulai diintegrasikan secara sistematis ke dalam ekosistem pendidikan tinggi di Tiongkok. Selain mendukung proses belajar, AI juga berperan penting dalam aktivitas riset mahasiswa internasional. Saat ini, berbagai platform AI mampu membantu proses pencarian literatur, penyusunan ringkasan jurnal, penerjemahan artikel ilmiah, hingga analisis data awal. Kehadiran AI memungkinkan mahasiswa menyelesaikan pekerjaan akademik dengan lebih efisien, terutama bagi mahasiswa yang harus membaca sumber berbahasa Mandarin dan Inggris secara bersamaan. Program studi penerjemahan di beberapa universitas Tiongkok bahkan mulai memasukkan penggunaan teknologi AI-assisted translation sebagai bagian dari kompetensi mahasiswa agar mampu bersaing di era digital (Xi’an Jiaotong-Liverpool University, 2025). Di sisi lain, perkembangan AI juga membawa perubahan terhadap pola interaksi sosial dan kehidupan sehari-hari mahasiswa internasional di Tiongkok. Penggunaan AI kini tidak hanya terbatas pada ruang kelas, tetapi juga hadir dalam layanan kampus seperti chatbot administrasi, sistem rekomendasi pembelajaran, hingga aplikasi penerjemahan otomatis dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa internasional dapat menggunakan AI untuk memahami instruksi akademik, memesan layanan transportasi, maupun berkomunikasi dengan masyarakat lokal. Kondisi ini secara tidak langsung membantu proses adaptasi budaya dan mengurangi culture shock yang sering dialami mahasiswa asing pada awal masa studi. Walaupun memberikan banyak manfaat, penggunaan AI dalam pendidikan juga menimbulkan beberapa tantangan baru. Salah satu tantangan utama adalah ketergantungan mahasiswa terhadap teknologi AI dalam menyelesaikan tugas akademik. Beberapa diskusi publik menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa penggunaan AI secara berlebihan dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis dan keterampilan bahasa mahasiswa internasional. Selain itu, terdapat pula kekhawatiran mengenai akurasi informasi, plagiarisme, dan etika penggunaan AI dalam dunia pendidikan. Penelitian mengenai penggunaan generative AI di universitas Tiongkok juga menunjukkan bahwa mahasiswa menghadapi dilema antara kemudahan akses teknologi dengan kebutuhan menjaga integritas akademik (Xie et al., 2025). Tantangan lainnya berkaitan dengan perbedaan akses terhadap platform AI global dan domestik di Tiongkok. Sebagian mahasiswa internasional lebih terbiasa menggunakan platform global seperti ChatGPT, sedangkan di Tiongkok banyak mahasiswa lokal menggunakan platform domestik seperti DeepSeek dan Doubao. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mahasiswa di Tiongkok sering menyesuaikan penggunaan AI berdasarkan faktor bahasa, aksesibilitas, dan relevansi budaya (Xie et al., 2025). Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan AI di Tiongkok memiliki karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan regulasi nasional. Secara lebih luas, perkembangan AI di Tiongkok juga memberikan gambaran mengenai masa depan pendidikan global. Integrasi AI dalam pendidikan tidak lagi hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih personal dan adaptif. Penelitian mengenai Artificial General Intelligence (AGI) dalam pendidikan menunjukkan bahwa AI memiliki potensi besar untuk mendukung sistem pembelajaran yang mampu menyesuaikan kebutuhan setiap individu, memberikan umpan balik otomatis, serta meningkatkan efektivitas evaluasi akademik (Latif et al., 2023). Dengan perkembangan tersebut, mahasiswa internasional di Tiongkok menjadi salah satu kelompok yang secara langsung mengalami transformasi pendidikan berbasis AI dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, perkembangan AI di Tiongkok menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi bagian penting dalam transformasi pendidikan tinggi modern. Bagi mahasiswa internasional, AI memberikan banyak manfaat dalam mendukung pembelajaran, penelitian, komunikasi, dan adaptasi budaya. Namun demikian, penggunaan AI juga perlu disertai dengan kemampuan berpikir kritis, etika akademik, dan literasi digital yang baik agar teknologi dapat dimanfaatkan secara bijak. Oleh karena itu, mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami batasan dan tanggung jawab dalam penggunaannya di lingkungan akademik yang semakin terdigitalisasi.