PPI Tiongkok Logo

PPI TIONGKOK

HomeAboutEventsNewsGalleryJobsJoin UsMap

Home

About

Events

News

Gallery

Jobs

Join Us

Map

Back to News
Featured

Transformasi Kota Hijau di Tiongkok: Dari Urbanisasi Cepat Menuju Pembangunan Berkelanjutan

By Jonathan Edric Janssen

Tuesday, July 28, 2026

Berikut abstraknya: Abstrak Urbanisasi yang berlangsung sangat cepat di Tiongkok dalam beberapa dekade terakhir telah mendorong ekspansi kota-kota besar sekaligus memunculkan berbagai tantangan lingkungan, seperti berkurangnya ruang hijau, polusi udara, dan banjir perkotaan. Sebagai respons, pemerintah Tiongkok mengarahkan pembangunan perkotaan menuju konsep kota hijau (green city) yang menginte

Dalam beberapa dekade terakhir, Tiongkok mengalami salah satu proses urbanisasi tercepat dalam sejarah dunia. Pertumbuhan ekonomi yang pesat telah mendorong ekspansi kota-kota besar, pembangunan infrastruktur dalam skala masif, serta peningkatan jumlah penduduk perkotaan secara signifikan (Wang et al., 2025). Namun, urbanisasi yang cepat juga membawa berbagai tantangan lingkungan, mulai dari berkurangnya ruang hijau, polusi udara, banjir perkotaan, hingga meningkatnya emisi karbon (Wang et al., 2025). Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah Tiongkok mulai mengarahkan pembangunan perkotaan menuju konsep kota hijau (green city) yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan (Chan et al., 2021). Transformasi ini kini menjadi salah satu agenda utama pembangunan perkotaan di negara tersebut.

Salah satu pendekatan yang paling menonjol dalam transformasi kota hijau di Tiongkok adalah konsep "Sponge City" atau kota spons. Konsep ini diperkenalkan secara nasional untuk meningkatkan kemampuan kota dalam menyerap, menyimpan, dan memanfaatkan air hujan melalui kombinasi infrastruktur (Rau, 2022). Berbeda dengan pendekatan konvensional yang hanya mengandalkan saluran drainase dan beton, kota spons memanfaatkan taman, lahan basah, atap hijau, dan permukaan berpori untuk mengurangi risiko banjir sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan. Pendekatan ini menjadi salah satu strategi utama Tiongkok dalam membangun ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi (Rau, 2022).

Program Sponge City pertama kali diterapkan melalui sejumlah kota percontohan sebelum diperluas ke berbagai wilayah di Tiongkok. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsep tersebut mampu meningkatkan kapasitas kota dalam mengelola limpasan air hujan, mengurangi genangan, serta mendukung pemanfaatan kembali sumber daya air. Selain manfaat hidrologis, proyek-proyek Sponge City juga berkontribusi pada peningkatan kualitas ruang publik melalui pembangunan taman kota, koridor hijau, dan kawasan rekreasi yang lebih ramah lingkungan.

Transformasi kota hijau di Tiongkok tidak hanya berfokus pada pengelolaan air, tetapi juga pada peningkatan tutupan vegetasi perkotaan. Pemetaan yang memanfaatkan citra satelit menunjukkan bahwa sekitar 76% kota besar di Tiongkok mengalami peningkatan tutupan pohon antara tahun 2010 hingga 2019 (Zhang et al., 2019). Kota-kota megapolitan seperti Beijing dan Shanghai bahkan mencatat peningkatan tutupan pohon yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata kota lainnya (Zhang et al., 2019). Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan penghijauan perkotaan yang diterapkan selama satu dekade terakhir memberikan dampak nyata terhadap kondisi lingkungan kota.

Peningkatan ruang hijau juga memiliki dampak positif terhadap kualitas hidup masyarakat. Akses terhadap ruang hijau perkotaan berkontribusi pada kesehatan fisik dan mental, mengurangi efek panas perkotaan (urban heat island), serta meningkatkan kenyamanan lingkungan bagi penduduk (Liu et al., 2025). Penelitian terhadap 314 kota di Tiongkok menemukan bahwa paparan terhadap ruang hijau mengalami peningkatan signifikan selama periode 2010–2020, meskipun masih terdapat ketimpangan distribusi antarwilayah dan kelompok masyarakat (Wang et al., 2025).

Selain penghijauan, konsep kota hijau di Tiongkok juga didukung oleh integrasi teknologi dan perencanaan kota modern. Banyak kota mulai menerapkan sistem pemantauan lingkungan berbasis data, pengelolaan energi yang lebih efisien, serta pembangunan transportasi publik rendah emisi. Transformasi ini menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan penanaman pohon, tetapi juga mencakup tata kelola kota yang lebih cerdas dan efisien. 

Meski demikian, transformasi kota hijau di Tiongkok tidak lepas dari berbagai tantangan karena peningkatan ruang hijau belum selalu merata antarwilayah (Wang et al., 2025). Kota-kota besar cenderung memperoleh manfaat penghijauan yang lebih besar dibandingkan kota kecil dan menengah (Wang et al., 2025). Selain itu, distribusi ruang hijau di dalam kota juga masih menunjukkan ketimpangan, sehingga tidak semua kelompok masyarakat memperoleh akses yang sama terhadap manfaat lingkungan tersebut (Wang et al., 2025).

Tantangan lain muncul dari meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Meskipun berbagai proyek Sponge City telah menunjukkan hasil yang menjanjikan, sejumlah peristiwa banjir besar dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa infrastruktur hijau perlu terus dikembangkan dan dipadukan dengan sistem mitigasi bencana yang lebih komprehensif (Liu et al., 2025). Para peneliti menilai bahwa keberhasilan kota hijau tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada integrasi antara perencanaan lingkungan, tata kelola pemerintahan, dan partisipasi masyarakat (Liu et al., 2025; Wang et al., 2025; Zhang et al., 2019).

Secara keseluruhan, transformasi kota hijau di Tiongkok menunjukkan bagaimana sebuah negara dapat berupaya menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan perlindungan lingkungan. Melalui pembangunan Sponge City, perluasan ruang hijau, program penghijauan nasional, dan inovasi tata kota berkelanjutan, Tiongkok berusaha menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih tangguh dan layak huni. Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, pengalaman Tiongkok memberikan pelajaran penting bagi negara-negara lain yang sedang menghadapi tekanan urbanisasi dan perubahan iklim, termasuk Indonesia yang juga tengah berupaya membangun kota-kota yang lebih hijau dan berkelanjutan.


PPI Tiongkok Logo

PPI Tiongkok

  • Home
  • |
  • About
  • |
  • Events
  • |
  • Gallery
  • |
  • Map

Terms|Privacy

© 2025 Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok